Kamis, 02 Februari 2012

PLAYFULL KISS EPISODE 13

EPISODE 13
Seung Jo menemui presiden direktur di sebuah restoran khas korea. Siapa sangka pertemuan antara presiden direktur dan Seung Jo, melibatkan He Ra. He Ra adalah cucu perempuan kesayangan dari presiden direktur. Seung Jo kaget saat mengetahui hal itu.

He Ra : “Kau tidak harus merasa kaget seperti Seung Jo. Aku pun sama kagetnya denganmu saat tahu bahwa kau adalah pengurus perusahaan yang baru.”
Presiden Direktur : “Aku tidak tahu bahwa He Ra dan kau sudah saling kenal satu sama lain.”
Seung Jo : “Ya. Kami di satu perguruan tinggi yang sama dan di semester yang sama juga. Kami teman.”
Presiden Direktur : “Aku merasa khawatir dengan He Ra, tapi sepertinya ini sebuah takdir antara kau dan He Ra.”

Presiden Direktur menyuruh He Ra untuk memilih makanan yang lezat untuk dipesan. He Ra menyebutkan ketidak sukaan Seung Jo terhadap makanan yang berminyak, jadi He Ra menyarankan Seung Jo untuk memesan daging panggang.

Melihat keakraban Seung Jo dan He Ra, presiden direktur memilih untuk meninggalkan mereka.
Di rumah, Ibu Seung Jo mencari Seung Jo.

Ha Ni : “Seung Jo sudah pergi. Dia bilang ada sebuah janji. Ia menggunakan pakaian formal dan pergi. Ada apa?”

Ibu Seung Jo tidak berkata apa-apa, ia hanya menatap Ha Ni dengan tatapan iba. Ibu Seung Jo sebenarnya ingin memberitahu Ha Ni tentang pertemuan antara Seung Jo dan He Ra.

Di sebuah taman.
He Ra : “Kau merasa terkejut bukan?”
Seung Jo : “Ia. Sedikit terkejut.”
He Ra : “Kau terlihat sangat disukai kakekku. Ini pertama kalinya aku dipertemukan dengan seorang laki-laki pilihan kakekku. Awalnya tentu saja aku tidak menyetujui pertemuan ini. Tapi saat aku tahu kalau laki-laki itu berasal dari perusahaan game di korea, aku yakin itu kau. Aku ingin tahu bagaimana reaksimu.

Seung Jo : “Bagaimana reaksiku?”
He Ra : “Kau.. kau.. mm..”
Seung Jo : “Lalu bagaimana selanjutnya, apakah aku harus menikah denganmu? perusahaan sangat membutuhkan dana dari kakekmu.”
He Ra : “Itu mungkin saja terjadi. Tapi aku yakin, kau tidak menyukai hal ini.”
Seung Jo : “Akankah kau tidak menyukai hal ini?”

Seung Jo tengah meminum air dari keran taman. He Ra datang, awalnya He Ra pun ingin melakukan hal yang sama, yaitu meminum langsung air dari keran itu. Tapi, He Ra malah mengarahkan air keran itu hingga membasahi Seung Jo.

Seung Jo tertawa : “Kenapa kau bertingkah seperti anak kecil?”
Seung Jo berjalan mendekati He Ra dan dengan cepat ia membalas He Ra, Seung Jo mengarahkan air keran yang mengalir pada He Ra.

Seung Jo : “Kondisi seperti saat ini. Permainan tidak dapat dilanjutkan. Aku bersedia keluar bersama denganmu saat ini hanya karena urusan pekerjaan dan perusahaan. Karena saat ini aku berada di belakang orang-orang yang bekerja di perusahaan. Tapi, Karena kau adalah orang lain. Aku lega akan hal itu. Tapi, tidakkah kau tidak menyukai hal ini?”

He Ra : “Dengan menjadikan hal itu sebuah alasan? Aku tidak tahu bahwa kata-kata ini dapat keluar dari mulut Baek Seung Jo.”
Seung Jo : “Benarkah? Hidup itu benar-benar ekstrim. Dan bukan sebuah permainan.”
He Ra : “Tapi, aku keluar karena kau. Kau datang dan kau sangat senang bahwa itu adalah aku, tapi aku datang karena kau. Meskipun aku sudah mengetahui alasan kenapa kau datang. Hey, sejak aku tahu alasan yang sebenarnya, perasaanku jadi hancur. Jadi, aku melakukan hal yang benar dengan mengatakan tidak akan datang. Tapi, pagi ini, aku ingin keluar untuk mendapatkan kesenangan. Tidakkah kau terlihat seperti dirimu? Tapi, meskipun kenyataannya seperti itu, aku tidak akan melangkah sejauh itu. Ayo kita ambil kesempatan, di lain kesempatan.”
Seung Jo : “Baiklah, itu terdengar bagus.”
He Ra : “Benarkah? benarkah?”

He Ra melompat-lompat senang, ia hampir terjatuh kalau Seung Jo tidak memegang tangannya.
Ibu Seung Jo akhirnya menceritakan pada Ha Ni tentang pertemuan antara Seung Jo dan He Ra.
Ibu Seung Jo berkata pada Ha Ni : “Itu benar. Sabarlah. Mungkin mereka akan merasa ketakutan. Dia tidak baik dengan perempuan dan dia juga tidak menyenangkan.”

Ha Ni memaksakan diri untuk tersenyum, sebenarnya hatinya sakit mendengar hal itu.
Seung Jo pulang.

Seung Jo : “Aku pulang.”
Ibu Seung Jo dan Ha Ni menghampiri Seung Jo.
Ibu Seung Jo : “Lekas, ceritakan sedikit mengenai pertemuanmu, Baek Seung Jo.”
Seung Jo : “Bukankah Ibu akan mengunjungi Ayah di rumah sakit. Cepat pergilah. Kita akan bicara nanti.”

Ibu Seung Jo : “Aigoo, lihat sikapnya yang seperti itu. Siapa yang akan menyukai pria dingin seperti itu.”
Ibu Seung Jo berbicara pada Ha Ni.
Ibu Seung Jo : “Ha Ni. Mungkin hanyalah kau orangnya yang dapat mengimbangi dan mengarahkan sikap Seung Jo. Jadi, kau harus kuat.”

Ketika Ha Ni hendak ke kamarnya, ia bertemu dengan Seung Jo.
Ha Ni : “Kau pulang cepat?”
Seung Jo : “Iya.”
Ha Ni : “Maaf. Apa kau telah menghadiri sebuah pertemuan yang membicarakan tentang pernikahan?”
Seung Jo : “Iya.”
Ha Ni : “Bagaimana?”
Seung Jo : “Apa kau sudah mendengar berita itu?”
Ha Ni mengangguk.

Ha Ni : “He Ra. Aku telah mendengarnya, He Ra adalah cucu dari pemilik Windy Media.”
Seung Jo : “Ia. Bukankah itu hal yang sangat bagus.”
Ha Ni berkata dengan terbata-bata : “Apakah, kau akan... menikah dengannya?”
Seung Jo : “Menikah? Mungkin saja. Biasanya, seorang menikah setelah mengadakan pertemuan pernikahan bukan?”

Setelah berkata seperti itu, Seung Jo langsung menuju kamarnya. Ia meninggalkan Ha Ni yang menangis dalam kesendiriannya. Ha Ni sangat menyukai Seung Jo, tapi Seung Jo terlihat tidak memperdulikan perasaannya.

Ha Ni menangis. Tiba-tiba tanpa sepengetahuan Ha Ni, Eun Jo datang dan ia melihat Ha Ni menangis.

Hei, siapa bilang Seung Jo tidak mempedulikan perasaan Ha Ni. Di kamar, Seung Jo termenung.
Di kampus, Ha Ni bertemu dengan kedua sahabatnya, Ha Ni mengatakan pada mereka bahwa Seung Jo akan menikah dengan He Ra. Di satu sisi, kedua sahabat Ha Ni merasa sangat prihatin dengan apa yang dirasakan oleh Ha Ni.

Tapi mereka berpikir bahwa saat Seung Jo menikahi He Ra, maka lambat laun Ha Ni akan melupakan Seung Jo.

Seung Jo menandatangani sebuah berkas yang dibawa oleh Manager. Setelah menandatangi berkas itu, Manager menanyakan sesuatu.

Manager : “Maaf, Pak. Bagaimana pertemuan antara anda dengan cucu perempuan dari Presiden Direktur?”
Seung Jo : “Baik.”
Manager : “Aku dengar bahwa kalian berdua sudah saling kenal satu sama lain.”
Seung Jo : “Ya, benar.”

Manager : “Presiden Direktur ingin sekali kau menjadi menantunya.”
Seung Jo tidak ingin membicarakan hal yang berkaitan antara hubungannya dengan He Ra. Jadi, Seung Jo mengalihkan pembicaraan mereka.
Seung Jo : “Apakah Tutorial dalam bentuk Power Point sudah disiapkan dengan baik?”
Manager : “Oh, ya. Itu akan kami lakukan hari ini. Oh, baiklah. Aku akan meninggalkan ruangan ini.”

Seung Jo mendapatkan pesan dari He Ra. Seung Jo mengabaikan pesan itu. Sepertinya Seung Jo teringat dengan Ha Ni. Seung Jo langsung mengirim sms pada Ha Ni.

Di perpustakaan. Ha Ni terlihat sangat pucat. Pesan yang dikirim oleh Seung Jo sampai ke Handphonenya. Tidak seperti biasanya, Ha Ni merasa kesal membaca sms Seung Jo.

Ha Ni berada di restoran ayahnya. Ia tengah bersama Joon Gu. Ha Ni sedang mencicipi masakan buatan Joon Gu.

Ha Ni : “Hmm.. ini lezat. apakah semua makanan ini buatanmu sendiri?”
Joon Gu : “Aku membuat ini dengan semua kekuatanku.”
Ha Ni : “Bagaimana kau melakukan ini? Kau sangat mengagumkan Joon Gu.”
Joon Gu : “Aku ingin kau yang pertama kali merasakan mie buatanku. Sebelum aku mulai memasak, terlebih dulu aku mencuci tanganku dengan amat bersih kemudian menyiapkan seluruh hatiku. Aku letakkan semua rasa di hatiku ke dalam masakanku itu.”

Ha Ni terus memuji Joon Gu atas semua usahanya membuat masakan selezat ini. Joon Gu sangat senang mendengar pujian dari Ha Ni. Di sela-sela itu, Joon Gu dengan malu-malu mengajak Ha Ni untuk berkencan.

Dan Ha Ni tentu saja menyetujui ajakan Joon Gu itu. Perasaan Ha Ni sedang tidak enak, mungkin berkencan dengan Joon Gu akan membuat perasaannya sedikit membaik. Joon Gu senang sekali, Ha Ni menyetujui hal itu.

Pagi harinya. Eun Jo tengah sarapan pagi dan Seung Jo datang.
Seung Jo : “Dimana Ha Ni?”
Eun Jo : “Dia pergi berkencan.”
Seung Jo : “Kencan?”
Eun Jo : “Dia benar-benar mempercantik dirinya sebelum ia pergi. Dengan jaket merah, sepatu merah. Dia pergi dengan segala yang ia pakai berwarna merah.’
Seung Jo : “Benarkah? Kedengarannya seperti, dia pergi dengan laki-laki yang aneh.”

Eun Jo memperhatikan Seung Jo. Eun Jo tahu kalau Seung Jo cemburu. Karena Seung Jo menghentakkan koran yang ia baca, saat ia tahu Ha Ni pergi berkencan dengan orang lain.

Joon Gu sudah datang lebih dulu dari Ha Ni. Joon Gu melihat ke sekeliling, ia tengah mencari Ha Ni. Dan tidak berapa lama kemudian, Ha Ni datang.

Ha Ni : “Apakah kau sudah datang dari tadi?”
Joon Gu : “Tidak juga, aku datang sekitar 3 jam yang lalu.”
Ha Ni : “Benarkah? Apakah jam ku salah?”
Joon Gu: “Bukan, bukan itu. Di rumah aku terus melihat jam tapi aku merasakan seperti waktu berjalan lambat. Jadi aku pergi lebih awal.”
Ha Ni : “Benarkah?”
Joon Gu : “Kau telah benar-benar datang, Ha Ni. Aku rasa, aku akan benar-benar akan mati.”

Joon Gu memuji Ha Ni yang terlihat sangat cantik. Joon Gu telah menyiapkan dua tiket bioskop.
Di rumah sakit, Ayah Seung Jo, Ibu Seung Jo dan Presiden Direktur berbincang-bincang mengenai Seung Jo dan He Ra. Mereka membahas masalah pernikahan Seung Jo dan He Ra.

Ibu Seung Jo : “Menikah?”
Presiden direktur : “Ya. Aku tahu bahwa keduanya berasal dari universitas yang sama dan mendapatkan peringkat pertama atau kedua selama mereka kuliah di sana. Selama sekolah dulu, aku dengar mereka bertemu sekali di pertandingan tenis.”

Ayah Seung Jo: “Ya,”
Ibu Seung Jo : “Jika kau berpikir seperti itu, maka setiap pasangan di sebuah pertandingan merupakan sebuah takdir. Dan kalau begitu...”
Ayah Seung Jo : :Tapi, ini mengenai Seung Jo dan He Ra. Mungkin pernikahan dapat ditunda setelah mereka menyelesaikan pendidikan mereka.”

Presiden Direktur : “Bukankah mereka dapat melanjutkan pendidikan setelah mereka menikah? Akan lebih baik jika mereka melanjutkan pendidikan di luar negeri. Melakukan bisnis dan semuanya, aku belajar bahwa orang-orang seperti itu yang sangat dibutuhkan. Satu orang cerdas dapat memimpin 100 orang. Ketua Baek, janganlah kau memikirkan tentang uang.”

Seung Jo dan He Ra tengah menonton suatu pertunjukkan badut. Mereka terhibur oleh atraksi yang dimainkan. Tanpa sengaja Seung Jo melihat dua orang tengah bermain bulu tangkis, dan Seung Jo teringat Ha Ni.

Seung Jo teringat kenangan saat Ha Ni memukul-mukulkan raketnya ke udara karena marah atas kedekatan antara Seung Jo dan He Ra.

Ha Ni: “Ah, aku sangat kenyang. Seharusnya aku yang membeli makan malam.”
Joon Gu : “Apa yang kau katakan? Sudah lazim bila laki-laki yang mentraktrik perempuan makan.”
Ha Ni : “Hari ini sungguh sangat menyenangkan. Filmnya juga sangat bagus.”
Joon Gu : “Ini adalah hari yang paling indah dalam hidupku. Ha Ni, senyummu adalah sesuatu hal yang sangat indah. Ketika aku ingin melihat senyummu setiap hari, aku mungkin tidak akan bisa memasak.”

Ha Ni memperhatikan Joon Gu. Ha Ni tahu betapa tulusnya Joon Gu menyukai dirinya. Tapi, Ha Ni masih belum bisa melupakan Seung Jo.

Joon Gu : “Kenapa? Apakah ada yang aneh di wajahku. Apakah aku terlihat aneh.”
Ha Ni : “Terimakasih. Kau sungguh orang yang sangat baik. Akhirnya aku menyadari hal itu, aku sangat senang dengan kebaikanmu.”
Joon Gu merasa tersanjung.
Joon Gu : “Ha Ni, apakah kau pernah ke sungai?”
Ha Ni : “Belum, aku belum pernah ke sana.”
Joon Gu : “Aku juga belum pernah ke sana, semenjak aku datang dari Busan. Apakah kau ingin ke sana?”
Ha Ni : “Ok.”

He Ra : “Wah! Sungai Han sangat indah!”
Seung Jo : “Benarkah?”
He Ra : “Seung Jo kau sedang tidak fokus, benarkah perkiraanku? Apakah perkembangan game di perusahaan berjalan dengan baik? Kakekku bilang kalau idemu dalam pembuatan game itu sangat bagus.”

Seung Jo : “Benarkah? Aku akan membuatnya seperti kodok biru.”
He Ra : “Kodok biru?”
Seung Jo : “Setiap orang selalu mengatakan sesuatu hal yang berkaitan dengan 3 dimensi, 3D, Aku akan melakukan hal yang berbeda dari 3 dimensi. Lebih seperti sebuah animasi.”
He Ra: “Wah! Ide yang sangat bagus. Semua orang selalu berpikir tentang bagaimana membuat sebuah game yang terlihat seperti nyata. Itu sama seperti sebuah animasi. Sebuah perlawanan.”
Seung Jo : “Benar. Sebuah perlawanan. Mengambil kelemahan dari sebuah game dan menjadikannya sesuatu yang sangat kuat. Aku berpikir untuk membuatnya lebih seperti sebuah animasi.”
He Ra : “Itu pasti alasan kenapa kakekku sangat menyukaimu. Kau sungguh jenius. Apakah kau ingin pergi ke club jazz?”

Ha Ni dan Joon Gu menaiki sebuah jembatan penghubung.
Joon Gu : “Ha Ni, tempat apa ini?”
Ha Ni : “tampaknya seperti sebuah Cafe.”
Joon Gu : “Cafe. Ha Ni, bagaimana kalau kita masuk ke dalam sana dan makan Caramel Macchiato.”
Ha Ni : “Oke.”
Joon Gu: “Ayo, cepat. Sebenarnya ini pertama kalinya dalam hidupku pergi ke tempat seperti ini.
Jika aku tidak mengenalmu mungkin aku tidak akan pernah pergi ke tempat seperti ini. Tempat ini seperti yang ada di sebuah drama.”
Ha Ni : “Apakah kau menyukainya?”
Joon Gu : “Tentu saja. Aku sangat menyukai hari ini.”

Akhirnya Seung Jo- He Ra vs Ha Ni-Joon Gu bertemu di tempat yang sama.
Joon Gu : “Ha Ni, apakah kau kedinginan? Kau harus memakai jaket yang hangat.”
Seung Jo melihat Ha Ni, ada raut cemburu di tatapan Seung Jo.
Joon Gu : “Baek Seung Jo?”
Seung Jo : “Apakah kalian sedang berkencan?”
Joon Gu : “Kau tidak lihat kami berdua seperti apa? Yaahh.. Lihat kalian berdua, sepertinya kalian juga sedang menghabiskan waktu untuk bersenang-senang bukan?”
Seung Jo : “Yah, tentu saja.”
Seung Jo ingin Ha Ni cemburu padanya seperti dirinya yang tengah cemburu pada Ha Ni.
He Ra : “Bukankah, Seoul itu kecil. Bagaimana kita bisa berada di tempat yang sama seperti ini?”
Ha Ni : “Yah, aku kira seperti itu.’
He Ra : “Ah, ya. Apakah kalian ingin pergi bersama kami. Kami akan pergi ke sebuah Jazz Bar.”
Joon Gu : “Sebuah Bar?”
Seung Jo : “Tidakkah kau salah? Mereka akan menganggu kita. Kalian berdua seharusnya pergi ke tempat yang buruk. Bukankah hal itu lebih nyaman?”
Joon Gu: “Apa yang kau katakan? Kami berdua juga punya telinga dan kami dapat mendengarkan musik yang bagus juga.”
Ha Ni : “Baiklah. Kami akan segera pergi. Joon Gu, ayo kita pergi ke tempat lain.”
Seung jo : “Oh Ha Ni. Kau terlihat sangat baik-baik saja.”
Ha Ni diam tapi Joon Gu yang menjawab Seung Jo.
Joon Gu : “Benarkah? Dia sangat istimewa dan sangat sempurna.”

Di Lain tempat, hati Ha Ni hancur, bagaimana tidak, orang yang disukainya berkencan dengan orang lain, bahkan mereka akan menikah. Ha Ni berjalan seraya menunduk, Joon Gu ingin mengatakan sesuatu tapi kata-katanya tersendat.

Joon Gu sulit untuk mengatakan apa yang seharusnya ia katakan. Ia takut terluka Ha Ni bertambah parah. Joon Gu memanggil Ha Ni. Ha Ni mencoba untuk menutupi rasa sakit di hatinya, Ha Ni memaksakan diri untuk tersenyum, ia berkata pada Joon Gu "Joon Gu, terimakasih sudah mengajakku ke tempat ini." Joon Gu tersenyum. Dan akhirnya, Joon Gu mengucapkan apa yang sedari tadi ingin ia ucapkan.

Joon Gu : “Maukah kau menikah denganku? Aku melihatmu dan kau melihat Seung Jo. Itu sudah berlangsung lebih dari 4 tahun. Aku akan menunggumu, berapapun lamanya itu. Dia sudah menemukan pasangan hidupnya sekarang. Ha Ni kau jangan melihat masa lalu, kau harus membalik semuanya. Saat kau berbalik, aku ada di sini untukmu. Menikahlah denganku.”

Ha Ni tentu saja terkejut mendengar pernyataan Joon Gu, hei, ini kencan pertama mereka, tapi Joon Gu sudah langsung mengutarakan isi hatinya. Ha Ni diam dan tidak menjawab.

Seung Jo sengaja membukakan pintu mobil untuk mempersilakan He Ra masuk ke dalam mobil.
He Ra : "’Kau punya tangan.’ Kau akan berbicara seperti itu pada Ha Ni, bukan?”
Seung Jo : “Mungkin.”

Di kamar, pikiran Ha Ni masih memikirkan ungkapan lamaran Joon Gu. Tapi, yang ada di pikiran Ha Ni hanya Seung Jo.

Ha Ni berbicara pada dirinya sendiri: “Dia telat, Apa yang dia lakukan sekarang? Jazz Bar. Itu pasti sangat menyenangkan. Ah! Aku memikirkan Baek Seung Jo lagi.”

Seung Jo baru saja datang. Ibu Seung Jo sengaja menunggu Seung Jo dari tadi.
Seung Jo : “Kau ada dirumah.”
Ibu Seung Jo : “Jam berapa sekarang?”
Seung Jo : “Jam sebelas.”

Ibu Seung Jo : “Apa saja yang telah kau lakukan sampai selarut ini? Kau sudah melakukan pertemuan pernikahan tanpa memberitahu kami. Aku dengar kau pergi kencan juga hari ini. Apa yang sedang kau rencanakan? Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan saat ini!”

Ibu Seung Jo : “Dia mengatakan bahwa dia baik, jadi apa yang salah denganmu.”
Seung Jo : “Aku tidak melakukan hal ini untuk ayah.”
Ibu Seung Jo : “Pembohong.”
Seung Jo : “Aku tidak berbohong.”
Ibu Seung Jo : “Kau melakukan hal ini untuk perusahaan ayahmu bukan?”
Seung Jo : “Tidak. Kau sungguh tidak mengenal anakmu.”

Ibu Seung Jo : “jadi, apa maksudnya menemui cucu Presiden Direktur?”
Seung Jo : “Kau benar-benar ingin tahu?”

Seung Jo tahu kalau di atas Ha Ni tengah mencuri dengar pembicaraan mereka, jadi Seung Jo sengaja mengeraskan suaranya.

Seung Jo : “Karena aku menyukainya.”

Setelah berkata seperti itu, Seung Jo langsung menuju kamarnya. Ha Ni berniat untuk bersembunyi, karena Seung Jo datang. Tapi, kaki Ha Ni malah tersandung sofa. Ha Ni menyeringai kesakitan. Ha Ni mencoba bersikap wajar di depan Seung Jo. Ha Ni menyapa Seung Jo.
Ha Ni berkata "Kau pulang larut." Seung Jo menatapnya dingin.

Ha Ni : “Dia sangat baik, dia tidak seperti orang yang selalu menyakitiku.”
Seung Jo : “Good luck.”

Seung Jo membanting pintu kamarnya.
Eun Jo bangun mendengar Seung Jo membanting pintu. Eun Jo tahu segalanya, dia tahu seperti apa perasaan Seung Jo. Otak Eun Jo mencoba mencerna semua yang terjadi di hadapannya.

Di sebuah restaurant, Ha Ni makan bersama kedua sahabatnya. Ha Ni bercerita tentang Joon Gu yang melamarnya semalam.

Kedua sahabat Ha Ni : “Apa? Melamar?”
Joo Ri : “Joon Gu sangat mengagumkan.”
Min Ah : “Menikah?”
Joo Ri : “Jadi, apa yang kau katakan?”
Ha Ni : “Aku tidak berkata apa-apa.”
Joo Ri : “Apa-apaan kau ini?”

Ha Ni : “Aku tahu, Joon Gu adalah orang yang sangat baik. Tapi, aku sungguh tidak memiliki perasaan apapun padanya. Meskipun, ia sudah mengatakan lamarannya.”
Joo Ri: “Dimana kau akan mendapati orang sebaik Joon Gu. Joon Gu hanya memikirkanmu, Ha Ni.”
Ha Ni mengingat kembali kejadian malam kemarin, Seung Jo dan He Ra yang pergi berkencan bersama.
Joo Ri : “Baek Seung Jo akan menikah dengan He Ra,”

Min Ah : “Iya, Ha Ni. Sekarang saatnya kau memikirkan dirimu dan Joon Gu. Joon Gu sudah menantimu lebih dari 4 tahun. Tidak ada orang yang lebih baik dari pada Joon Gu.”

He Ra dan Seung Jo sedang berada di sebuah mall. Mereka tengah memilih baju. Seung Jo sudah mendapatkan pilihannya, sebuah switer hitam yang langsung ia kenakan.

He Ra : “Hitam? Itu sangat bagus.”
He Ra sangat menyukai jaket pilihan Seung Jo. Dan He Ra meminta pendapat Seung Jo mengenai pakaian yang ia pilih.

He Ra : “Ah, Seung Jo. Mana yang lebih bagus?”
Seung Jo : “Yang putih.”
He Ra : “Ah, aku juga berpikir seperti itu.”
Di kasir pembayaran pakaian.

Cashier : “Sudah siap untuk dibungkus.”
He Ra : “Ia tolong bungkus secara terpisah.”
He Ra hendak mengambil dompetnya, tapi Seung Jo berkata "Biar, aku saja yang bayar."
He Ra : “Benarkah? terimakasih. Ayo kita pergi makan malam, aku tahu beberapa tempat yang bagus.”

Di tepi jalan Ha Ni terus memikirkan apa yang dikatakan kedua sahabatnya,
Ha Ni berbicara pada dirinya sendiri : “Orang yang baik untukku adalah Joon Gu bukan Baek Seung Jo. Dan itu pasti Joon Gu. Meskipun hatiku hanya untuk Seung Jo, tapi aku merasa nyaman berada di dekat Joon Gu. Karena aku merasa, dia adalah bagian dari keluargaku.”

Karena, terlalu memikirkan tentang perasaan, Ha Ni tanpa sengaja bertabrakan dengan seorang pejalan kaki. Ha Ni dan pejalan kaki itu saling membungkuk, meminta maaf. Tas Ha Ni jatuh, saat Ha Ni hendak mengambil tasnya yang terjatuh tapi sudah tas itu sudah terlebih dahulu diambil oleh seseorang. He Ra. He Ra mengambil tas Ha Ni dan membersihkan bagian yang kotor dari tas itu.

Ternyata Ha Ni dan He Ra bertemu di tikungan jalan. Tentu saja Seung Jo ada di sana.
He Ra : Kita bertemu lagi. Kau sedang berbelanja. Kami akan makan malam bersama.
Seung Jo : “Kau mau ikut?”

Ha Ni hanya bisa menatap Seung Jo. Tahukah Seung Jo, betapa hancurnya Ha Ni? Ha Ni sudah dua kali di waktu yang hampir bersamaan memergoki He Ra yang selalu bersama Seung Jo.
He Ra : “Iya, pergilah bersama kami.”

Seung Jo : “Terserah kau saja, aku tidak akan memaksamu.”
He Ra merangkul lengan Seung Jo dan berkata : “Ya. Ayo kita pergi.”
Tidak ada yang bisa Ha Ni katakan. Ia hanya berusaha untuk tidak menangis.

Di restaurant ayah Ha Ni. Joon Gu tengah asyik melihat fotonya berdua bersama Ha Ni saat mereka berkencan. Joon Gu tersenyum dan tertawa sendiri. Ayah Ha Ni yang melihat hal itu mencoba menegurnya.

Ayah Ha Ni : “Apakah kau akan terus melihat foto itu sepanjang hari?”
Joon Gu tersadar : “Maaf, Chef.”
Ayah Ha Ni : “Cepat, bersihkan meja dan piring-piring itu.”

Dengan cekatan Joon Gu langsung melakukan apa yang diperintahkan oleh ayah Ha Ni.
Saat Joon Gu tengah membersihkan meja. Ha Ni, Seung Jo dan He Ra datang.
Joon Gu tanpa tahu siapa yang datang mengucapkan salam "Selamat Datang."
Ayah Ha Ni menghampiri mereka.

Ha Ni : “Ayah.”
Ayah Ha Ni : “Oh Ha Ni.”
Seung Jo mengucapkan salam dengan sopan pada ayah Ha Ni : “Hallo.”

Ayah Ha Ni dan Joon Gu sama kagetnya melihat siapa yang datang bersama Ha Ni. Ayah Ha Ni melayani mereka dengan ramah.

He Ra baru mengetahui bahwa ini ternyata adalah restoran milik Ha Ni.
He Ra : “Apakah ini restaurant milikmu, Ha Ni ?”
Ha Ni : “Iya.”
Ayah Ha Ni berkata pada Seung Jo dan He Ra : “Kalian berdua berteman?”
Joon Gu langsung mengatakan dengan gembira : “Teman? Mereka berdua akan menikah.”
Ayah Ha Ni kaget mendengar hal itu. Ia menatap Ha Ni yang tengah tertunduk.
Ayah Ha Ni : “Benarkah? Oh, ayo silakan duduk.”

Seung Jo, Ha Ni dan He Ra duduk di tempat yang telah disiapkan oleh Joon Gu.
He Ra : “Aku mengetahui restoran ini dari internet. Dan aku sangat tertarik, jadi aku memutuskan untuk datang ke sini. Dan benar. restoran ini sangat cantik.”

He Ra mengomentari Joon Gu yang sangat cekatan : “Dia sangat berbeda.”
Joon Gu menyediakan makanan special dari restoran ayah Ha Ni. He Ra sangat menyukai masakan itu. Saat He Ra hendak memakan hidangan itu, He Ra memakannya dengan cara yang salah. Joon Gu mengajari He Ra bagaimana cara memakan masakan itu dengan benar.

Saat Joon Gu pergi Seung Jo berkata,
Seung Jo : “Kau harus bahagia, memiliki pacar yang mengetahui segalanya.”
He Ra mencoba untuk mengalihkan suasana, He Ra menyuapi Seung Jo.

Di ruang rapat, Seung Jo tengah mempresentasikan mengenai ide animasi gamenya.
Seung Jo : “Imaginasimu akan menjadi sebuah hal nyata. Hal itu akan direalisasikan melalui sebuah animasi. Ini akan menjadi satu gaya permainan dengan banyak sistem di dalamnya. Pengguna dapat menikmati banyak level, terutama karena konsep dasar dari setiap level imaginasi ini berbeda-beda.”

Para Investor sangat puas dengan presentasi Seung Jo yang sangat meyakinkan dan sangat mengagumkan.

Presiden Direktur berkata dengan lantang : “Seperti yang sudah kukatakan, ia sudah seperti animator film. Kau berhasil menyelesaikan proyek ini dalam waktu yang singkat.”

Seung Jo : “Para pekerja bekerja keras sampai larut malam dalam pembuatan proyek ini.”
Para Ivestor keluar dari ruang rapat, Seung Jo berterima kasih kepada mereka dan melakukan salam perpisahan.

Presiden Direktur datang menghampiri Seung Jo, ia berkata : “Kau sudah bekerja keras. Haruskah aku menyuruh He Ra untuk datang kemari dan membiarkan kalian berdua makan malam bersama?”
Seung Jo : “Tidak perlu. Ayahku sudah pulang dari rumah sakit. Jadi, aku harus makan malam di rumah bersama mereka.”

Presiden Direktur : “Baiklah, aku akan menyuruh He Ra untuk datang ke rumahmu. Lagi pula, He Ra butuh perkenalan dengan keluargamu, bukan?”

Seung Jo tidak dapat berbuat apa-apa, raut wajahnya terlihat ingin menolak saran dari Presiden Direktur.

Ibu Seung Jo datang ke ruang keluarga, untuk menemui He Ra yang sudah datang.
He Ra mengucapkan salam kepada Ibu Seung Jo : “Hallo.”
Ibu Seung Jo : “Ya,”
Ibu Seung Jo menghampiri Ha Ni yang berdiri dekat tangga.
Ibu Seung Jo berkata pada Ha Ni : “Kenapa kau hanya berdiri di sana. Ayo kita duduk bersama.”
Ibu Seung Jo menuntun Ha Ni untuk duduk di sampingnya.
Ibu Seung Jo: “Aku pernah bertemu denganmu sebelumnya.”
He Ra : “Benar. Aku Yoon He Ra.”
Ibu Seung Jo : “Aku memang sudah bertemu denganmu tapi tampaknya kesanmu pertamamu saat itu buruk.”

He Ra hanya tersenyum mendengar hal itu.
Ibu Seung Jo : “Ah, Ha Ni. Kau tahu bahwa Ha Ni dan Seung Jo sudah tinggal bersama?”
He Ra : “Oh, tentu saja aku mengetahui hal itu.”
Ibu Seung Jo melihat kue di atas meja. Ibu Seung Jo pikir itu pemberian dari He Ra. Ibu Seung Jo berkata : “Oh, kau membawa kue. Ayah Seung Jo dilarang memakan makanan yang mengandung banyak gula. Dan Seung Jo juga tidak menyukai makanan yang manis-manis.”

Ha Ni berkata : “Aku yang membeli itu, itu untukmu ibu.”
Ibu Seung Jo : “Oh, benarkah.”
He Ra membuka makanan yang dibuat dari bahan dasar nasi. He Ra berkata : “Aku bawakan ini. Mohon dinikmati.”

Eun Jo : “Berbeda sekali dengan Ha Ni.”
Ibu Seung Jo membela Ha Ni : “Nasi tetap saja nasi.”
Ibu Seung Jo mengambil kue yang dibeli oleh Ha Ni kemudian memakannya.
Ayah Seung Jo : “Mengobrollah. Aku harus ke dalam dan kembali istirahat.”
Eun Jo : “Aku juga.”

Ayah Seung Jo dan Eun Jo meninggalkan ruang keluarga. He Ra memberikan salam kepada mereka.
Ibu Seung Jo mulai berbicara mengenai Seung Jo yang sebenarnya.

Ibu Seung Jo : “Seung Jo adalah anakku, tapi entah kenapa ia sangat temperamen. Dia juga egois dan sangat angkuh.”

He Ra menjawab dengan tersenyum : “Tidak. Dia tidak seperti itu. Dia sangat baik.”
Ibu Seung Jo : “Benarkah? Dia adalah tipe orang yang tidak banyak bicara, ia hanya berbicara sesuai dengan apa yang ada di buku. Apakah kau menyukai orang yang seperti itu?”

He Ra : “Ya, tentu saja. Kami berdua adalah orang yang rasional dan sangat logik. Meskipun orang-orang berbicara seperti itu, tapi aku sangat senang dengannya.”

Ibu Seung Jo : “Dia tipe orang yang tidak ramah terhadap orang lain. Ia adalah tipe orang yang
tega mengembalikan surat yang dibuat khusus untuknya.”
He Ra : “Benarkah? Benarkah kau melakukan itu?”

Ibu Seung Jo : “Kalian berdua masih muda. Bukankah Baek Seung Jo terlihat sangat pintar. Tapi, sebenarnya dia sangat bodoh. Dia tidak mengerti dan tidak tahu apa yang tengah ia rasakan. Bila Seung Jo menyukai seseorang, maka ia akan bersikap dingin dengan orang yang disukainya. Dan cenderung memusuhi orang yang di sukainya itu. Begitulah yang aku tahu. Itu artinya dia sangat kejam.”

Ibu Seung Jo dan Seung Jo saling berbicara satu sama lain. Ha Ni datang menyediakan minuman untuk keduanya.

Seung Jo : “Kau kekanak-kanakan.”
Ibu Seung Jo : “Apa?”
Seung Jo : “Aku tidak mengatakan kalau aku menyukai Ha Ni. Tapi, kenapa kau memaksaku untuk menyukainya?”

Ibu Seung Jo : “Kau anakku. Aku tahu apa yang kau rasakan dan kau pikirkan.”
Seung Jo : “Walaupun begitu, biarkan aku memilih jalan hidup dan cintaku sendiri. Tolong jangan campuri urusanku lagi.”
Ibu Seung Jo : “Ikut campur? Bukankah aku selalu menghormati semua keputusanmu.”
Seung Jo : “Begitukah? Tapi, apa ini?”

Ibu Seung Jo : “Kau sudah mengetahui dengan benar bagaimana perasaan Ha Ni yang sebenarnya. Dan kau masih membawa He Ra kerumah kita? Masalah utamanya adalah tentang perasaan dan sopan santun. Apa kau anak kecil yang belum mengetahui tata krama dan sopan santun?”

Ha Ni merasa bersalah, karena ia pokok masalah terjadinya pertengkaran Seung Jo dan ibunya.
Ha Ni berkata : “Ibu, aku baik-baik saja.”

Seung Jo : “Tolong, hentikan ini, ibu.”
Ayah Seung Jo datang, ia tidak rela bila Seung Jo berbicara keras pada ibunya.
Ayah Seung Jo : “Baek Seung Jo, kau.”

Seung Jo : “Baiklah. Kau menghormati keputusanku, lakukanlah yang terbaik sesuai kemauanmu sendiri.”

Ibu Seung Jo dan Ayah Seung Jo berbicara mengenai sikap Seung Jo. Mereka berbicara di depan kamar Eun Jo. Eun Jo yang tengah belajar, mau tidak mau pun ikut mendengarkan pembicaraan mereka.

Ibu Seung Jo : “Aku berpikir bahwa Seung Jo akan menyukai Ha Ni. Dia anakku. Jadi aku yakin itu. Aku percaya bahwa dia akan menyukai Ha Ni. Bukankah mereka cocok satu sama lain? Mereka saling mengisi kekurangan mereka masing-masing dan saling berbagi kelebihan yang mereka miliki. Bukankah seperti itu?”

Ayah Seung Jo : “Seperti itu juga yang aku pikirkan. Tapi, Seung Jo tidak melakukan hal itu. apa yang harus kita lakukan tentang hal ini?”
Ibu Seung Jo : “Apa yang harus kita lakukan? Aku rasa, aku telah membuat kesalahan yang membuat renggang hubungan Seung Jo dan Ha Ni.”

Ibu Seung Jo menahan tangisnya.
Eun Jo yang tidak tega melihat ibunya menangis, ia menghampiri Ibunya dan berkata
Eun Jo : “Dia menyukainya.”
Ibu Seung Jo : “Apa?”
Eun Jo : “Kakak menyukai Ha Ni. Jadi, jangan menangis, ibu.”
Ibu Seung Jo : “Eun Jo. Apa yang barusan kau katakan?”

Belum sempat Ibu Seung Jo mendapat penjelasan dari Eun Jo. Eun Jo langsung berlari menjauhi ibunya, Eun Jo tidak ingin ibunya menanyakan lebih jauh mengenai apa yang ia tahu tentang Seung Jo dan Ha Ni. Ibu Seung Jo mengejar Eun Jo. Tapi, Eun Jo bersembunyi di kamar Seung Jo.
Eun Jo langsung bertanya pada Seung Jo.

Eun Jo : “Apakah kau benar-benar akan menikah dengan He Ra?”
Seung Jo mengalihkan pandangannya dari buku yang tengah ia baca : “Bukankah ia cantik? Kau juga menyukai noona cantik kan.”

Eun Jo : “Apakah kau benar-benar menyukai Noona itu?”
Seung Jo : “Bukankah nantinya seperti itu, jika kami terus bersama?”
Eun Jo : “Tapi,, bukankah.. bukankah.. orang yang sukai itu adalah...”
Seung Jo memutuskan kata-kata Eun Jo.
Seung Jo : “Noona itu adalah gadis yang pantas untukku. Dia sangat cantik dan dia juga pandai bermain tenis.”

Eun Jo : “Kakak....”
Seung Jo : “Jika kau bertemu dengannya sebagai dua orang yang saling berpasangan di masa yang akan datang, kau pasti akan menyukainya.”
Eun Jo berbicara pelan : “Pembohong.”

Eun Jo tengah mencari serangga. Ia melihat ke sekelilingnya, kemudian mendapati Ha Ni tengah tertidur di kursi taman.

Eun Jo : Bisa-bisanya ia tidur ditempat terbuka seperti ini, Dia sungguh ceroboh. Benar. Menaruh serangga di atas tangannya. Oh Ha Ni kau pasti akan sangat terkejut.

Belum sempat Seung Jo melakukan niat jahilnya, Seung Jo datang menghampiri Ha Ni. Seung Jo melihat Ha Ni tengah tertidur nyenyak, Eun Jo melihat Seung Jo mencium Ha Ni yang tengah tertidur. Tentu saja, Eun Jo kaget melihat hal itu. Tanpa sengaja, Seung Jo melihat Eun Jo dari kejauhan. Seung Jo memberikan isyarat pada Eun Jo, agar ia tidak memberitahukan siapapun. Eun Jo mengangguk mengerti.

Eun Jo tengah berusaha untuk mengingat-ingat kembali kejadian itu.
Eun Jo : “Kemudian, Kakak kembali ke penginapan. Kakak, mencium Oh Ha Ni. setelah melakukan itu,. aku melihat semua. Tapi aku tidak mengatakannya pada ibu.. Kakak mengatakan hal yang tidak benar. Keadaan yang sebenarnya adalah Kakak menyukai Oh Ha Ni.”

He Ra berada di ruang kerja kakeknya. He Ra terlihat tengah memikirkan sesuatu.
Presiden Direktur : “Apakah ada sesuatu yang salah?”
He Ra : “Tidak. Semua tidak berjalan salah dan tidak juga berjalan benar. Aku hanya tengah menjalaninya.”

Presiden Direktur : “Ada apa dengan si Jenius He Ra? Haruskah kakek ikut campur tangan dan mempercepat semuanya.”
He Ra : “Mempercepat?”
Presiden Direktur : “Ya. Kita adalah pemegang kendalinya. Kita di pihak yang memegang pisau, dan mereka adalah pihak yang tengah terancam.”

He Ra : “Aku tidak ingin hal yang seperti itu, kakek. Menakuti seseorang dan memaksanya untuk melakukan hal yang kita inginkan, hanya membuat perasaanku sakit.”
Presiden Direktur : “Jadi, kakek hanya harus tinggal diam di sini, tanpa berbuat apapun?”
He Ra : “Ya. Tapi, jika aku berpikir aku tidak bisa melakukan apapun, aku akan menyuruh kakek untuk menghunus pisau.”

Presiden Direktur : “Ya. Kau jangan memegang pisau.”
He Ra : “Aku tidak akan memegangnya.”
Ibu Seung Jo sudah menyiapkan pudding untuk Eun Jo. Ini adalah salah satu usaha Ibu Seung Jo untuk mengetahui hal yang diketahui oleh Eun Jo.
Ibu Seung Jo : “Baek Eun Jo. aku telah menyiapkan puding kesukaanmu. Ayo buka mulut.. enak kan. Eun Jo.. Eun Jo ceritakan padaku apa yang kau ketahui mengenai Seung Jo yang menyukai Ha Ni.”

Eun Jo : “Aku tidak akan makan lagi.”
Eun Jo berlari menjauhi ibunya.
Ibu Seung Jo : “Kau sedang menyembunyikan sesuatu, benarkah? kesini!”
Jadilah, mereka saling kejar mengejar.

Ayah Ha Ni : “Mungkin karena cuaca sedang cerah sekarang, ada banyak bintang dilangit.”
Ha Ni : “Ayah. Apa pendapatmu tentang aku yang berkencan dengan Joon Gu.”
Ayah Ha Ni : “Joon Gu? Ada apa? apakah ada sesuatu yang terjadi?”

Ha Ni : “Tidak. Aku hanya berkata 'jika itu terjadi'. bagaimana pendapatmu?”
Ayah Ha Ni : “Siapa yang tahu akan hal itu. Aku tidak terlalu menyukai Joon Gu, ia sedikit kasar dan bila dilihat secara keseluruhan dia itu seperti.. seorang laki-laki sejati. Dan saat ia sedang memasak dia sangat fokus. Hal yang paling penting adalah dia sangat menyukaimu, Ha Ni. Ha Ni mengangguk.”

Kemudian pembicaraan mereka beralih tentang rencana pindahnya Ha Ni dari rumah Seung Jo. Mereka merencanakan untuk segera pindah dari rumah Seung Jo, karena sebentar lagi, Seung Jo akan menikah.

Joon Gu menelpon Ha Ni untuk datang ke restorannya, karena ia baru saja membuat menu khusus. Joon Gu ingin Ha Ni yang pertama kali mencobanya. Ha Ni mengiyakan, ia akan datang ke restoran setelah pulang dari kampus.

Seung Jo datang ke lapangan tenis, ia bertemu dengan Kyung Soo. Seung Jo datang untuk mengambil barang-barangnnya yang ada di locker.

Kedua sahabat Ha Ni datang ke lapangan tenis untuk melihat-lihat. Tapi, tanpa sengaja mereka bertemu dengan Seung Jo.

Kedua sahabat Ha Ni mencoba untuk memanas-manasi Seung Jo dengan mengatakan bahwa Ha Ni dan Joon Gu akan segera menikah.

Seung Jo hanya diam, tapi raut cemburu tergurat di wajah nya.
Ha Ni menikmati masakan Joon Gu. Joon Gu sudah sangat mahir membuat masakan yang lezat.
Ditengah pembicaraan mereka, suasana yang tadinya hangat menjadi dingin. Karena Joon Gu kembali mengungkit tentang lamarannya waktu itu. Tapi, Ha Ni hanya menyukai Seung Jo. Bagaimanapun, Ha Ni sangat menyukai Seung Jo. Joon Gu memaksa Ha Ni untuk menikah dengannya. Joon Gu mencoba mencium Ha Ni, tapi Ha Ni menolak dan ia pergi meninggalkan restoran.

Ternyata diperjalanan Seung Jo sudah menunggu Ha Ni.
Ha Ni mengatakan kalau ia menyukai Joon Gu. Seung Jo tidak menyukai hal itu, Seung Jo berkata bahwa Ha Ni hanya menyukai Seung Jo. Dan Seung Jo langsung mencium Ha Ni.

BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar